Nafas-nafas liarku selalu membisikkan cara-cara licik untuk menggagalkan perjamuan itu. Namun kenapa Tuhan masih memberiku otak untuk berpikir dan hati untuk merasa?
Haruskah kuteriakkan slogan kaum kami yang berbunyi “kutunggu jandamu!” ataukah aku biarkan kuasa Tuhan berjalan dan bersembunyi dibalik rasa belas kasihan terhadap diriku sendiri dalam suatu topeng kata-kata “biarlah yang terbaik untuk yang terbaik”?
Jangan kau biarkan aku gila wahai Tuhan, atau surgamu akan penuh nanti terisi orang-orang seperti aku!
Ah.. akukah Qaiz dan diakah Layla? apakah Layla juga mempunyai pipi yang kemerah-merahan seperti halnya Aisyah az Zahra?